Perempuan dalam Cangkir

Diposting pada: 2015-10-26, oleh : staim, Kategori: Artikel Dosen

Oleh: Asep Fathur Rozi
Chapter 1
Mari merenung sejenak…
Meniti pada benang keruhanian, bahwa hidup itu hanya milik Yang Maha Segala Maha. Kita tidak berhak mengatur segala sesuatu pun dengan ego kita, tapi berdasakan hikmah kejiwaan yang sepadan dengan etika kemanusiaan. Begitupun terhadap perempuan, yang pada hakikatnya adalah ibu kita, nenek kita, kakak kita maupun adik-adik kita. Perempuan juga menjadi titisan Maria Sang Bunda yang menjadi Dewi Hawa pendamping Bapak para manusia, perempuan juga yang pertama kali menyelamatkan Isa putra Maria. Dan tidak perlu diperdebatkan betapa kuasanya Cleopatra sang penakluk lelaki, betapa dahsyatnya perjuangan Tjut Nyak Dien, betapa besarnya kekuasaan Ratu Sima dan betapa gigihnya perjuangan Ibu Kita Kartini. Kalau perempuan sudah berkarya, sudah berdaya, maka laki-laki pun mudah diperdaya.

Perempuan tercipta dari tulang rusuk laki-laki, begitulah beberapa pakem religi yang sering kita dengarkan. Namun, bukan berarti perempuan itu neroko katut, suwargo nunut kepada suami. Hanya terkadang budaya patriarki yang begitu kokoh seolah menjadi benteng dan memperkuat penganutnya untuk memberikan pemahaman yang menurut mereka benar, bahwa perempuan itu tidak lebih sebagai konco wingking. Hal inilah yang memicu, betapa banyaknya gerakan perempuan untuk memperjuangkan hak-haknya yang pernah terpasung budaya patriakhi. Ironis terkadang, saat dijumpai ada beberapa perempuan yang justru nyaman dengan kondisi tersebut. Dan menganggap perjuangan perempuan adalah satu kesalahan, sebuah upaya untuk mengkhianati pakem-pakem leluhur, dan menjadi hal yang sangat dihindari. Pamali atuh...

Begitu dahsyat potensi yang dimiliki perempuan, namun seolah luluh oleh budaya dan pemahaman yang kurang pas terhadap pakem religi. Bukankah Sang Pencipta telah mengajarkan pada ciptaanNya, bahwa Dia menciptakan perempuan dan laki-laki itu setara dengan hanya kedekatan hati kepada Sang Pencipta sebagai pembeda derajat. Dan bukankah Sang Maha Pengatur, telah memberikan pakem yang jelas bahwa al rijal itu bisa qawwamuuna kepada nisaa’ dengan fadl yang dititipkan Tuhan kepadanya, dan dengan anfaqu. Tanda inilah yang sering dijadikan senjata utama, bahwa rijal itu pasti laki-laki dan nisaa’ itu adalah perempuan. Sejenak mari kita pikirkan, bagaimana jika yang dititipi fadhl itu adalah nisaa’ dan bukan rijal, akankah tradisi patiarkhi itu tetap dipertahankan. Bagaimana pula kalau rijal itu diterjemahkan sebagai kepala rumah tangga dan nisaa’ penanggung jawab ketentraman ruma tangga.

Penjelasan diatas, bisa benar bisa salah, karena yang berhak menentukan kebenaran hanyalah Sang Pembenar, sedangkan manusia hanyalah membaca tanda-tanda yang sudah diberikan kepadanya sebagai rujukan dan referensi kebenaran. Tetapi yang menjadi lebih rancu ketika tanda dimaknai sebagai rujukan utama perempuan dan dipahami bahwa itu adalah hal yang wajib dan harus di eja-wantahkan seperti itu, maka yang terjadi adalah tindakan konyol dan lebih mengarah kepada penuntutan hak-hak yang harus dipenuhi secara utuh, tanpa peduli kepada pakem budaya, pakem religi maupun pakem sosial. Inilah yang menjadikan perjuangan perempuan terkadang salah jalur. Seringkali mendiskusikan masalah perempuan terbatas pada komunitas perempuan saja, padahal untuk menjadi setara dengan laki-laki, perempuan harus duduk bersama dengan laki-laki untuk berdiskusi, dan saling memberi masukan dan kritik.

Jika ini dilakukan dengan baik, maka perempuan tidak berjuang sendirian saja, bakan laki-laki yang suda menyadari kesetaraannya akan tuut membantu perjuangannya. Perjuangan perempuan akan terasa lebih ringan, dan jika Sang Kehendak Mutlak mengamini, niscaya kesetaraan perempuan dan laki-laki akan segera tecapai. Tetapi ingat, perempuan dan laki-laki punya kodrat masing-masing untuk tetap dipatuhi. Dan sejenak marilah merenung, sudah pas kah tatanan pakem dimasyarakat kita, sudah benarkah apa yang selama ini kita anggap benar dan perlukah kita mengubah pandangan dan pemahaman kita.

Wallaahu a'lam

Chapter 2
Awal mula
Ketika aku mulai menginjakkan kaki di lokalisasi, satu demi satu persoalan yang dialami perempuan yang bekerja disana mulai aku ketahui. Dari awal mula mereka memutuskan diri untuk terjun kesana, sampai akhirnya bagaimana mereka mendapatkan perlakuan-perlakuan yang kurang adil ketika mereka bekerja. Tidak cukup sekiranya tiga hari tiga malam membahas ketimpangan sosial dan ketidakadilan gender yang menimpa para pekerja disana. Tidak ada seorangpun perempuan yang ketika dilahirkan ke dunia ini bercita-cita menjadi pekerja seks. Mungkin ungkapan itulah yang tepat untuk mengawali ceria ini. Dan ungkapan itulah yang menjadi patokan penulis untuk mencoba melihat kehidupan pekerja seks dari sudut pandang yang bukan lagi religi, namun lebih kepada tatanan sosial dan ekonomi. Banyak alasan yang menjadikan mereka untuk terjun menjadi pekeja seks.

Pertama, para pekerja seks mengalami kegagalan dalam rumah tangga karena ditinggal mati suaminya, diceraikan ataupun di duakan. Sementara mereka mempunyai anak-anak yang butuh tidak hanya kasih sayang tetapi juga makan, minum, sekolah dan kebutuhan lain, sedang suaminya sudah tidak lagi mau menafkahi anaknya. Dalam hal ini pekerja seks menjadi tulang punggung bagi anak-anaknya dan selain bekerja mereka juga harus memikirkan masa depan anaknya. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, mereka terpaksa merelakan tubuhnya untuk dinikmati oleh orang-orang yang tidak mereka kenal sebelumnya demi sesuap nasi.
Kedua, ada beberapa pekerja seks yang memutuskan masuk industri seks, karena mereka punya beban tanggung jawab menghidupi keluarga mereka, ayah, ibu, dan adik-adiknya, sementara dia tidak punya keahlian apa-apa karena sekolah saja hanya sampai SMP, bahkan tidak jarang penulis menemui pekerja seks yang tidak lulus SMP. Dengan hanya lulusan SMP, sulit sekali menemukan lowongan pekerjaan, bahkan untuk penjaga toko pun Sekarang minimal harus lulusan SMU. Sedangkan mau usaha sendiri tidak punya modal.
Ketiga, ketidaktahuan mereka sekingga menjadi korban traficking. Ada sejumlah pekerja seks yang masuk dunia esek esek karena dijual. Bukan hanya karena ditipu oleh calo karena diiming-imingi pekerjaan dikota, akirnya tergiur oleh rayuan calo, sampai akirnya dijerumuskan menjadi pekerja seks. Selain itu ada juga yang djual oleh orang yang terhitung masih familinya. Dan ketika sudah masuk dunia esek-esek mereka tidak bisa keluar lagi.
Keempat, karena mata rantai pekerjaan. Awalnya seorang perempuan hanya bekerja sebagai pelayan diwarung kopi, kemudan karena banyak kenalan sehingga mulai mengambah dunia cafe. Di dunia cafe inilah mereka mendapatkan perlakuan yang dalam bahasa penulis mengatakan sebagai pendidikan dasarnya untuk mulai ke jenjang pekerja seks. Tetapi tidak semua pelayan warung kopi maupun purel cafe seperti itu.
Kelima, karena depresi berlebihan terhadap masa lalu. Ada pekerja seks yang memulai karirnya dalam dunia seks, karena dulu mempunyai pengalaman tidak menyenangkan dalam hidupnya. Awalnya terjebak pada rayuan laki-laki yang dicintainya seingga dia mau melakukan apa saja termasuk melakukan hubungan suami istri. Setelah itu laki-lakinya pergi entah kemana meninggalkan perempuan dalam keadan hamil. Akhirnya perempuan ini menjadi pekerja seks, demi untuk menghindari cemooh masyarakat dan untuk menghidupi bayinya.

Jika ada perempuan yang dengan tulus dan ikhlas merelakan tubuhnya untuk dijual karena hanya itu satu-satunya yang bisa dilakukan untuk menghidupi bayi kecilnya, apakah pengorbanan ini disebut sebagai pekerjaan mulia ataukah pekerjaan hina. Dan mengapa jika berbicara tentang pekerja seks maka subyek yang selalu muncul dalam pemikiran kita selalu perempuan, padahal ada juga pekerja seks dari kaum laki-laki dan waria juga. Kenapa juga setiap kali ada penertiban oleh penegak hukum, yang selalu dioprak-oprak hanya pekerja seks jalanan, sedangkan yang terselubung sama sekali tidak terendus. Dan lagi-lagi yang terblow-up ke media adalah mereka yang perempuan, jarang sekali penertiban dilakukan kepada pekerja seks laki-laki, kalau sang penertib itu bener-benar adil. Ada memang dan baru saja terjadi, adanya penertiban pekerja seks laki-laki di Pulau Dewata, itupun dipicu karena beredarnya film tentang gigolo di Bali.

Mungkin kita sering lupa bahwa perempuan itu mendapatkan anugrah yang lebih besar dari laki-laki. Perempuan normal dalam masa hidupnya selalu mengalami 5 tahapan :

  1. Aqil Baligh yang ditandai dengan Menstruasi
  2. Hamil
  3. Melahirkan
  4. Menyusui
  5. Menopause

Kelima hal tersebut, dilalui dengan tidak mudah melainkan dengan mengalami kesakitan yang luar bisaa. Berbeda dengan laki-laki yang hanya mengalami mimpi basah untuk menandai baliknya dan andropause. Keduanya dilalui tanpa rasa sakit, bahkan enak untuk mimpi basah. Mungkin inilah yang mendasari ungkapan bahwa surga itu berada di telapak kaki ibu, mengingat betapa banyaknya anugrah Tuhan kepada perempuan, dan betapa sakitnya penderitaan perempuan ketika mendapatkan anugerah tersebut.

Mungkin pembaca berfikir, apakah aku menuliskan ini dibawah ancaman perempuan atau terhegemoni oleh issue yang lagi hangat tentang perjuangan perempuan untuk mendapatkan hak-haknya bukan bermaksud menentang laki-laki tentunya, namun sekedar mengingatkan laki-laki yang sudah beratus-ratus tahun lupa bahwa dia membutuhkan perempuan, maka dari itu hendaknya perempuan juga diberi kedudukan yang setara.
Sekedar mengingatkan pula bahwa Tuhan menciptakan manusia itu dari jenis dzakar dan untsa dan menjadikan mereka syu’uuba dan qobaaila untuk ta’arofuu. Dengan kedudukan yang sama disisi Tuhannya, hanya yang membedakan adalah atqookum. Bahkan, dalam teks suci Tuhan telah berbicara kepada kita, bahwa Tuhan menciptakan azwajaa, pasangan-pasangan kita min anfusikum, dari nafs-nafs kita sendiri litaskunuu ilaiha, supaya kita bisa sakana - yaskunu, (saling) tenang dan tenteram disamping mereka. Tidak dijelaskan apakah makna kholaqnakum itu penciptaan laki-laki atau perempuan atau bahkan kum diartikan sebagai aki-laki dan perempuan sekaligus, tetapi semua ahli bahasa sepakat bahwa kum adalah kata ganti untuk kamu laki-laki jamak.

Aku tidak begitu banyak tahu tentang teks itu sendiri, namun keyakinanku bahwa laki-laki dan perempuan dimata Tuhan adalah sama, kecuali kedekatan hati masing-masing kepada Sang Maha Pendengar Jeritan Hati.

Chapter 3 (1)
Jejak langkah
Hari itu aku menjejakkan kaki yang ke sekian kali di asrama (lokalisasi) pekerja seks perempuan. Hari masih pagi, belum kujumpai gincu-gincu merah yang menari di bibir sang perempuan, belum juga kulihat tank top super ketat memeluk gemulai tubuh mereka. Yang ada hanyalah ibu-ibu rumah tangga yang sedang menjemur pakaian, dengan rambut awut-awutan tergerai dengan gelang karet warna merah. Yang kulihat hanya mbak-mbak yang sedang lalu-lalang membeli sarapan dan maupun kebutuan sehari-hari. Tak nampak satupun dari mereka yang kelihatan sebagai pekerja seks, normal seperti teman-teman kita perempuan lainnya, bahkan seperti kakak-kakak kita juga. Tidak ada yang aneh.

Hanya saja mereka tinggal di asrama pekerja seks. Mungkin hanya itu yang membedakan mereka dari perempuan-perempuan lain. Ya... hanya pekerjaan yang membedakannya, sedangkan yang lainnya sama dengan perempuan lain, mereka punya keinginan untuk bahagia, ingin membahagiakan anak-anak mereka, kadang sedih kadang senang. Tidak pernah mereka punya keinginan terjun ke dunia itu. Tekanan ekonomi dan sosiallah yang menjadikan mereka seperti itu.

Aku tetap melangkahkan kaki sampai akhirnya kuputuskan berhenti di satu satu wisma yang sudah terbuka dan kelihatan ada pekerja seks yang belum pernah kujumpai sebelumnya. Dia duduk diteras menghadap jalan dan tersenyum kepadaku ketika aku mulai menjejak lantai teras wisma tersebut. Sebut saja namanya Sekar, begitu katanya saat aku berkenalan dengannya. Sekar yang usianya baru menginjak 22 tahun ketika itu, harus sudah mengalami trauma psikis yang begitu hebat dalam hidupnya untuk menjalin hubungan yang serius dengan laki-laki. Cerita itu aku dapatkan setelah beberapa kali berkunjung kesana.

Betapa tidak, ketika masih duduk di bangku SMU, Sekar bertemu dengan pujaan hatinya. Semuanya suda diberikan kepada pujaan hatinya, bahkan keperawanannya. Dia berani melakukan itu bukan tanpa sebab, pujaan hatinya tesebut mengajak Sekar ke tempat kos dan mencekokinya dengan miras sampai mabuk dan disaat mabuk itulah, keperawanannya terenggut. Malang benar nasib Sekar, tidak hanya sekali itu si cowok meminta dilayani. Beberapa kali dilakukan dibawah ancaman akan dilaporkan kepada pihak sekolah, maka dengan terpaksa Sekar melayani permintaan cowoknya.

Hingga pada suatu hari, si cowok minta putus dengan seribu alasan yang tidak rasional. Shock berat dialami Sekar, hampir tiap malam dia menyesali apa yang sudah dilakukan. Tapi apa mau dikata, ibarat nasi sudah menjadi bubur. Tetapi untunglah tidak hamil, mungkin hanya itu yang bisa disyukuri oleh Sekar ketika itu. Penderitaannya tidak cukup sampai disitu. Beberapa bulan kemudian orang tuanya mengatakan bahwa Sekar harus berhenti sekolah, untuk membantu orang tuanya bekerja. Pukulan hebat bagi dia tentunya.

Sejak saat itu, Sekar yang sudah tidak lagi perawan, mengembara ke luar kota, tanpa tujuan pasti. Gambaran bekerja sebagai apa juga belum ada dalam pikirannya. Tekadnya hanya satu, bagaimana dia bisa membantu orang tuanya untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Berangkat dari rumah menuju stasiun kereta pagi-pagi sekali, dengan bekal seadanya dan diiringi tangisan orang tuanya. Sampai saat itu pun, dia belum terpikirkan mau bekerja sebagai apa, yang penting kota tujuan sudah dia kantongi, berbekal secuil informasi dari tetanganya. Dia nekad berangkat, menyusul tetangganya yang telah lebih dulu bekerja diluar kota, tanpa dia tahu apa pekerjaannya.

Kabar yang dia peroleh, tetanggganya yang dia kenal sebagai Ester tersebut meraih sukses besar di kota tujuan, dan ketika pulang ke desanya selalu ganti-ganti mobil. Bayangan indah pun dipeluknya, berangan-angan seumpama dia bisa seperti Ester. Ah…. Hidup itu penuh tipu daya dan godaan. Sekarpun tertidur dalam kereta sampai akhirnya terbangun lagi karena ramainya pedagang asongan. Dia tidak tidur lagi sampai stasiun yang ia tuju. Dengan langkah gontai dan lelah, dia menjejakkan kaki di kota itu untuk pertama kali. Tujuannya adalah mencari telepon umum atau wartel, karena saat itu HP adalah barang mewah baginya.

Sampai di wartel pojok stasiun, dia masuk dan mulai menyentuh digit angka-angka mukjizat, dengan harapan melalui angka tersebut malaikatnya bisa datang dan menjemputnya menuju gemerlap kemewahan duniawi. Demi untuk membahagiakan kedua orangtuanya dan adik-adiknya. Selesai menelpon, Sekar duduk di bangku stasiun sambil berharap segera bertemu dengan Ester. Lima belas menit berlalu, tak nampak seuntai gaun surgawi dari malaikat yang dia tunggu. Sampai akhirnya 1,5 jam kemudian sesosok perempuan jelita datang dengan rambut tergerai sepunggung plus rebonding yang masih cling. Perempuan itu datang dibalut tanktop warna hitam yang sangat kontras dengan warna kulit putihnya dipadu rok mini putih 15 cm diatas lutut. Kontan kehadirannya bak bintang film yang ditelanjangi oleh mata lelaki yang lewat disitu ataupun pedagang asongan yang kebetulan lagi istirahat.

“Sekar ya….”, sapa Ester. Iya mbak, saya Sekar. “Mbak Ester …” Belum sempat Sekar melanjutkan ucapannya, Ester langsung mengamit tangannya dan mengajak Sekar berjalan menuju mobilnya. Kaget, kagum, dan macam-macam perasaan yang menyelimuti pikiran Sekar. Didalam mobilpun tak banyak percakapan yang bisa diceritakan. Sampai di sebuah rumah kontrakan yang tergolong mewah, Sekar dibawa masuk oleh Ester. Kemudian Sekar di tunjukkan sebuah kamar dan disuruh istirahat disana. Beberapa saat kemudian Ester masuk kekamar Sekar dan duduk di sudut tempat tidur.

Diawali obrolan ringan tentang bgaimana kabar desanya dan cerita-cerita lain tentang kenapa Sekar sampai menyusul Ester. Semua diceritakan Sekar tanpa terkeculai sambil menitiskan airmata, termasuk bagaimana bisa kehilangan keperawananya. Esterpun dengan lembut memeluk Sekar, ia mengerti benar apa yang dirasakannya, karena dia dulu juga pernah dikhianati oleh laki-laki. “Mbak Ester kerja nya apa sih ?”, selididik Sekar. Masih dengan memeluk Sekar, Ester bercerita, bagaimana dia dijerumuskan pacarnya menuju lembah hitam dan Sekarang dia menjadi purel freelance sebuah cafe besar dikota ini.

Tangispun meledak diantara keduanya, tak ada kata maupun jeritan. Hanya isak tangis menggema dikamar itu. Tangis sesak yang mungkin sudah bertahun-taun dipendam Ester. Baru kali ini dia bisa mengeluarkan unek-uneknya karena merasa senasib dengan Sekar. Setelah beberapa saat tangisan mereka reda, dan Ester pun mulai menanyakan, apakah Sekar benar-benar ingin bekerja sama persis dengan dia, menjadi purel. Kalaupun tidak, Ester berjanji akan mengupayakan mencarikan kerjaan yang lain, meskipun gajinya tidak seberapa. Sedangkan untuk tempat tinggal Ester sudah mempersilahkan Sekar tinggal drumah kontrakannya.

Beberapa hari kemudian, Sekarpun masih bimbang jalan mana yang akan dia pilih. Dia sadar benar, semua pihan ada resikonya. “Hai, sudah makan...”, sapa Ester membuyarkan lamunannya. “sudah mbak”, jawab Sekar. “Gimana Sekar, aku tidak memaksamu untuk mengikuti langkahku yang mungkin menurutmu dan banyak orang adalah haram”, ucap Ester sambil menerawang. Masih ada secerca sinar dalam hatinya, yang membuat Ester merasa ingin menangis sendiri kala itu. “Mbak, tekadku sudah bulat untuk bekerja apa saja, demi keluargaku, lagian aku juga sudah tidak perawan”jawab Sekar lirih.

Memang pekerjaaan Ester sebenarnya adalah purel cafe, namun tidak jarang dia juga menerima panggilan untuk memuaskan laki-laki yang sedang kesepian. Dan itu juga sudah dia ceritakan kepada Sekar, maka dari itu Ester berpikir, alangkah jahatnya dia kalau juga ikut mengajak Sekar terjun ke dunia prostitusi terselubung yang digelutinya. Dan keesokan harinya Ester bekerja tidak sendirian lagi. Dan sejak saat itu, dimulailah debut Sekar sebagai purel café plus-plus. Begitulah awal mula Sekar masuk ke dunia prostitusi, samapai karena satu alasan yang tidak dia ceritakan, dia pindah ke lokalisasi ini.

Tragis memang apa yang dialami Sekar, namun percayalah bahwa Sekar hanyalah satu diantara ribuan orang perempuan yang terpaksa menjual tubuhnya demi sesuap nasi. Dan berbahagialah, wahai engkau perempuan yang tidak mengalami cobaan seperti itu. Aku tidak bisa menyalahkan keputusan yang diambil Sekar untuk masuk ke dunia prostitusi. Aku tahu betapa sulitnya mencari kerja bagi mereka yang hanya mempunyai ijazah SMP, jangankan SMP, Sarjana pun sekarang banyak yang menjadi pengangguran. Meminjam sala satu bahasa iklan, - sarjana ojek -, sebuah ironi bangsa ini. Bangsa yang tekenal gemah ripah lo jinawi, bangsa dengan sebutan secuil tanah surga yang jatuh kebumi, bangsa dengan kesuburan tanah dan kekayaan melimpah, namun belum mampu membuat semua warganya menjadi makmur dan sejahtera.

Padahal, katanya fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara, namun agaknya hanya menjadi jargon belaka. Pada kenyataannya, fakir miskin dan anak terlantar benar-benar dipelihara, sampai dapat bertahan lama dan ada kecenderungan menjadi banyak. Mudah-mudahan suatu saat kalimat itu akan diganti bukan lagi fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara, tapi berubah menjadi fakir miskin dan anak terlantar menjadi tanggung jawab negara untuk disejahterakan.

Pikiranku menjadi nakal kemana-mana, mengkritisi hal-hal mapan yang sudah ada, mungkin inilah yang disebut orang sebagai anti kemapanan, suka mengorat-arit hal yang sudah pakem. Namun apakah semua hal yang pakem itu sudah pasti benar ?

Setelah dari tempat Sekar aku melanjutkan langkah kakiku. Belum ada kepastian wisma mana yang akan aku singgahi, yang penting aku berjalan tengok kanan kiri sambil berusaha mematri senyuman biar tidak lepas dari bibirku. Sapaanku kepada mereka yang berumur 20-an sampai 40-an kusamakan. Mbak.... Mbak.... Mbak..... hanya itu yang terlontar dari bibirku, plus senyum yang kubuat semanis-manisnya. Karena menurutku itulah panggilan yang pas dan akrab buat mereka, sedang untuk memanggil namanya, aku sendiri tidak hafal ratusan pekerja seks yang bekerja disana.

Chapter 3 bag. 2
Langkah kakiku berhenti, ketika ada panggilan dari seorang pekerja seks, “Mas Kondom, mampir sebentar”, serunya. Hatiku tertawa mendengar panggilan itu, aku memang sering bawa kondom tiap kali ke lapangan, buat jaga-jaga kalau ada pekerja seks yang meminta. Bagi mereka aku dan teman-teman satu tim, bagai malaikat kondom yang kemana-mana dalam tasnya selalu terrdapat kondom. Dan kondom yang aku bagikan ke mereka cuma-cuma, alias gratis. Karena aku dan teman-teman sendiri mendapatkannya dari KPA (Komisi Penanggulangan AIDS) secara gratis pula. Kondom yang gratis ini adalah bantuan dari pemerintah, dari BKKBN atau sekarang namanya KBKS.

Kemudian aku duduk dalam ruang tamu, di pojok sofa. Entah mengapa dari dulu aku suka duduk di pojok. Kemana tadi mbaknya, kok tidak ada, pikiku. “Bentar Mas” kata mbaknya dari dalam. “Ya Mbak, nyantai aja, ndak usah kesusu (tergesa-gesa)” jawabku. Padahal, batinku mengatakan, kok lama banget ya... gak keluar-keluar. “Maaf mas, lama nunggunya” ucap si Mbak sambil bawa 1 botol minuman. “Monggo Mas, silakan diminum” lanjutnya. Situasi yang sangat tidak tidak kuinginkan, aku dianggap sebagai tamu penting, disuguhi minuman, ditawari makan. Yah, seperti pejabat yang berkunjung kepada bawahannya. Aku tidak menginginkannya, tapi aku tidak bisa menolak, karena kalau aku tolak, mesti dibilang. “Mas jijik yha sama aku, kok gak mau nyentuh minuman/makanan sama sekali” katanya. Tidak cukup sampai disitu bahkan suatu waktu dengan nada sedikit mengancam pernah juga aku ditegasi, “Kalau gak mau minum, mbok ya gak usah kesini lagi”.

Polemik batin, satu sisi aku menolak tidak enak, menerima pun juga tidak enak, bagai buah simalakama kata Rama Aipama. Tidak enak menerima, bukan karena aku jijik, bukan aku takut didalamnya diguna-guna, tetapi aku takut kalau semua itu diada-adakan atau bahasa mudahnya, mereka rela memotong hasil jerih payahnya untuk sekedar membelikanku makanan atau minuman. Yah… memang seperti itulah adanya. Tapi setelah aku pikir-pikir lebih baik aku terima, asal pemberiannya tidak berlebihan, karena kalau berlebihan akan malah menyusahkan mereka.

“Tumben Mbak memanggil, ada apa to? Kelihatanya kok darurat”. Tanyaku basa-basi. “Enggak mas, cuma mau nanya-nanya, aku kepikiran saja dengan bosur ini” katanya sambil menunjukkan brosur tentang IMS (Infeksi Menular Seksual) yang minggu lalu aku taruh disana. Dia menjelaskan panjang lebar mengenai keluhannya tentang keputihan yang dialami, berbahaya atau tidak, apa obatnya..... bla bla bla. Akupun bertindak bak seorang konsultan kesehatan profesiona, meskipun bekal yang ku peroleh hanya baca dari buku, browsing di internet, maupun tanya-tanya kepada yang lebih ahli. Aku menjelaskan sebisaku, dan entri point yang selalu aku tekankan pada semua pekerja seks adalah :

1. Kalau sakit segera periksa
2. Jangan spekulasi beli obat sendiri, berbekal katanya
3. Jangan minum obat kalau tidak sakit
4. Dan kalau dapat obat ketika periksa harus diminum sampai habis.

Setelah menjelaskan panjang lebar tentang keputihan yang aku ketahui, dan memberikan wejangan-wejangan tentang 4 hal diatas, akupun tidak membahas masalah kesehatan pekerja seks secara mendetail, karena niatan awal aku membuat tulisan ini bukan untuk itu. Lagian untuk masalah kesehatan ada yang lebih ahli menjelaskan. Akupun mulai memasang jebakan pertanyaan padanya. “Mbak, sudah lama disini” tanyaku, padahal minggu kemarin sudah aku tanyakan. Bukan hanya sekedar untuk tes saja, apakah jawabannya sama dengan yang lalu, ataukah punya jawaban lain. Tetapi lebih dari itu, untuk menggali lebih dalam, latar belakang apa yang menyebabkan dia sampai bisa masuk kesini.

Dan, ternyata jawaban yang diberikan adalah sama, kurang lebih 4 tahun dia bekerja disana. Bekerja dengan keinginan yang kuat, untuk menghidupi buah hatinya yang saat penulis ketemu dengannya masih kelas 3 SD. Tak jelas suaminya kemana, akupun juga tidak terlalu berani untuk menanyakan itu, karena takut menyinggung masa lalunya. Selain itu, hal itu juga merupakan hal privaci baginya. Suntikan dan gelitik pemikiran mulai aku lemparkan, tanpa harus menunggu jawaban. “Mbak, rencana panjenengan sampai kapan akan disini”, tanyaku. Sekedar pertanyaan pembuka untuk membantunya menemukan kembali tujuannya kesini.

“Belum tahu Mas, masih nunggu si kecil mandiri” jawabnya lugas. “yang penting segera direncanakan saja, kapan akan mulai pensiun”, sahutku. Tidak aku perpanjang pertanyaanku, karena bila ini dilakukan justru akan terkesan aku mendikte dan bisa memperkeruh suasana. Hanya saja aku tekankan, bahwa si Mbak tidak akan mungkin selamanya di dalam lokalisasi. Untuk itu peru direncanakan kedepannya seperti apa, minimal dimulai dari menabung, untuk modal dihari tua. Hufh……… terkesan lucu bagiku, anak yang baru lahir kemarin sore, memberi wejangan kepada orang yang umurnya jauh diatasnya. Tapi tidak menjadi soal bagiku, toh aku sudah berhati-hati dalam menyampaikan agar tidak menyinggung mereka.

Begitulah gambaran keseharianku ketika bergelut dengan mereka para pekerja seks. Tidak banyak yang akan aku ceritakan tentang mereka karena pada dasarnya kehidupan dan keseharian mereka sama seperti ibu-ibu rumah tangga lainnya, sama seperti para karyawati dikantor-kantor. Sekali lagi yang membedakan adalah pekerjaannya. Pekerjaan yang bagi sebagian besar masyarakat adalah pekerjaan haram, pekerjaan nista dan banyak lagi stempel-stempel kejam yang dihadiahkan kepada mereka. Lalu bagaimanakah jika pekerja seks tersebut, memutuskan berhenti bekerja sehingga anak-anak yang masih kecil dan orang-orang yang ditanggung mereka menjadi kelaparan dan menderita ?? apakah ini tidak jauh lebih diharamkan ??

Pertanyaan yang sering terintas dalam pikiranku, apakah semua orang yang memandang bahwa pekerjaan pekerja seks adalah hina bin nista, bisa memberikan solusi kepada para pekerja seks tersebut? Ataukah hanya sebatas taqlid pada teks yang mengharamkan profesi pekerja seks.

Chapter 4 (habis)
Paradoks Pemikiran, Antara Ide dan Realita
Dalam teks jelas dikatakan, laa taqrobuu al zina, janganlah sekali-kali kamu mendekati zina. Laa adalah pelarangan yang jelas, tidak diragukan lagi. Taqrobu adalah fi’il atau kata kerja. Dalam pemaknaan bahasa menggunakan ideku, (mohon dikoreksi jika ada kesalahan) taqrobu adalah sebuah kata kerja yang membutukan subyek. Jelas yang dmaksud kamu dalam teks tersebut adalah aku sebagai pemeluk sekaligus peyakin ajarannya. Jadi laa taqrobu adalah kalimat kerja aktif untuk melakukan kerja mendekat. Ada hal kesengajaan mendekat dalam pemaknaanku. Lalu siapakah yang mendekati al zina tersebut, inilah yang harus kita renungkan bersama, harus dikaji ulang dengan hanya bertumpu pada Sang Pemilik Kebenaran Mutlak sebagai sandaran wajib.

Aku bukan orang yang sangat paham dengan religi, bukan pula orang yang sangat taat untuk melakukan semua perintah dalam religi. Namun seringkali pemikiranku menjadi terpasung dalam dunia di antara ide dan realita. Aku yakin dibalik semua teks yang sudah tertulis dalam lembaran-lembaran mushaf ada alasan dan ada sebab mengapa teks itu diturunkan. Ya..... dengan keterbatasan akalku aku mempunyai keyakinan bahwa teks itu diturunkan untuk menjawab persoalan manusia dan sebagai rujukan dan referensi pembenar atas realitas yang terjadi. Tapi teks tidak akan cukup tanpa dilengkapi dengan dawuh-dawuh Kanjeng Nabi Muhammad sebagai penjelas serta ijtihadnya para orang-orang pintar dalam bidangnya.

Apakah pekerjaan menjadi pekerja seks adalah sebuah perzinaan? Ataukah yang disebut pezina adalah orang yang sengaja melakukan zina ? Dan bagaimana pula pekerja seks yang hidup dari pekerjaanntya, yang dari pekerjaannya pulalah dia menghidupi keluarganya, sedang dalam hatinya tidak menginginkan itu ?

Aku tidak mengajak untuk menghalalkan profesi sebagai pekerja seks, aku juga tidak hendak mengukuhkan keberadaan mereka. Yang sedang aku lakukan adalah, mengajak berpikir kritis, bahwa pekerja seks adalah manusia, yang juga ingin dimanusiawikan seperti layaknya manusia. Mengajak kepada orang-orang untuk tidak menghakimi sisi psikologis pekerja seks dengan menempelkan label yang bermacam-macam yang justru akan menambah beban kepada mereka. Mengajak kepada ibu-ibu yang masih berpikiran bahwa pekerja seks lah yang menggoda suaminya, untuk kembali merenungkan apakah benar pekerja seks yang meenggoda atauka suaminya sendiri yang suka jajan diluar.

Apakah semua yang memberikan label negatif kepada pekerja seks sudah pernah memikirkan bagaimana perempuan-perempuan itu sampai memilih profesi sebagai pekerja seks? Dan sudahkah mereka ngobrol dan bercengkrama dengan perempuan yang “memilih” bekerja sebagai pekerja seks, ketika mereka mecaci maki perempuan-perempuan itu. Apakah mereka juga berpikir betapa sengsaranya mereka larut dalam kehidupan prostitusi, betapa sistem kejam telah menjadikan mereka sebagai objek sapi perahan.... sengaja aku menulis kata “memilih” dalam tanda petik, karena sebagian besar dari pekerja seks memilih pekerjaannya karena hanya itulah satu-satunya pilihan.

Tak kenal maka tak sayang. Ungkapan sederhana yang mungkin masih layak kita perhatikan, bagaimana kita akan menghargai pekerja seks sebagai bagian utuh dari masyarakat kalau kita sendiri jangankan bergaul, memandangpun jijik dan hanya dengan sebelah mata. Kita tidak akan pernah tahu, banyak orang yang mendapatkan “berkah” dari keberadaan pekerj seks. Dan mungkin salah satu dari kita yang membaca tulisan ini adalah yang mendapatkan berkah itu. Ada tukang cuci, tukan sayur, tukang kredit, tukang parkir, ojek, becak, warung kopi, warung nasi dll.

Aku tidak bisa menyebutkan semua profesi yang mendapatkan berkah dari adanya pekerja seks, karena memang keterbatasan yang kumiliki. Mari kita berpikir matematis; misalkan 1 orang pekerja seks mempunyai beban untuk menghidupi 2 orang dirumahnya kemudian dia juga membawa manfaat bagi 8 orang seperti bagan diatas, dengan masing-masing mempunyai tanggungan beban 2 orang, maka secara tidak langsung, pekerja seks akan membawa manfaat untuk (1 + 2) + 8 + (2 x 8) = 27 orang

Pernahkah kita berpikir positif terhadap mereka ??? atau jangan-jangan kita takut untuk berpikir positif tentang mereka. Pekerja seks juga manusia, yang dengan keterbatasannya akhirnya memilih untuk menjadi pekerja seks. Seringkali aku tulis di depan, tidak ada satu orang perempuan pun yang dilahirkan untuk mau memilih pekerjaan ini. Namun apakah setelah mereka memilih begitu, mereka menjadi bukan manusia lagi ? mereka menjadi lebih rendah dari binatang ? Aku masih punya patokan moral yang aku pegang teguh, bahwa secara religi pekerjaan mereka haram dan ini tidak terbantahkan. Hanya saja, sikap-sikap mengejek, menghina, mencaci, menghina saja tidak akan menyelesaikan masalah, dan tidak akan mungkin meniadakan keberadaan mereka. Menutup lokalisasi dan terus merazia bukan solusi yang efektif untuk “membuat bumi ini bersih” dari pekerja seks. Memberikan ketrampilan dan modal pun sepertinya harus ditinjau ulang, karena yang sering terjadi adalah pemberian ketrampilan dan modal malah salah sasaran dan tidak tidak efektif.

Mencoba menghargai dan memberikan kesempatan bagi mereka untuk berkarya mungkin bisa dicoba untuk memberikan bekal kepada mereka. Dan sebagai manusia yang diberi kelebihan dan kebahagiaan lebih oleh Tuhan, mari kita coba untuk lebih memanusiakan manusia lain.


Print BeritaPrint PDFPDF

Berita Lainnya

Silahkan manfaatkan aplikasi ini dan berikan komentar dengan baik dan mendidik!



Tinggalkan Komentar Anda


Nama*
Email* Tidak akan diterbitkan
Url  Ketik tanpa http:// exp:pendidikanonline.com
Komentar*
security image
 Masukkan kode diatas
 

Ada 0 komentar untuk berita ini


© 2017 STAI MUHAMMADIYAH TULUNGAGUNG. Powered by Formulasi Free Opensource CMS | Hosting Sekolah
viewporntube indobokep classicrentcar borneowebhosting informasiku classicborneorentcar bokep indonesia